A Letter From My Friend


Dear you,
Apakabar mu?
Apakah kamu sehat?

Aku tau kamu tidak sehat. Kamu sekarat.
Bukan tubuhmu, tapi hatimu, pikiranmu, imanmu.
Lelah untuk mengingatkanmu tentang gunanya obat, karena kini kau tak lagi percaya.
Kau begitu yakin bahwa sakitmu karena kandungan yang serupa dengan obat di tanganmu itu. Kau yakin mereka berasal dari sumber yang sama.
Hingga kau tak tau lagi, harus marah atau gembira.
Tuhan memang mengatakan bahwa manusia tidak akan bisa memahami logikaNya.
Namun kau tak pernah berhenti mencoba mendekati sedekat mungkin dengan logikaNya. Kau tau sia-sia, namun kau tetap mencoba hingga terluka.





Dear you, istirahatlah.

Duduklah dengan tenang di kursi taman itu. Seperti waktu dulu kamu bersamanya. Bersama dia yang pernah kau cinta. Dia yang membuat imanmu goyah untuk malam itu. Malam dimana kamu jatuh cinta, sekaligus malam dimana dia pergi selamanya.



Duduklah tenang disana. Jangan kenang dia, atau dia, atau dia.
Duduk saja, dan kenang dirimu sendiri, sewaktu kecil.
Dirimu yang lugu, pemalu, dan selalu mengadu kepada ibu.
Dirimu yang selalu tertawa berbincang dengan teman fantasi.
Dirimu yang percaya bahwa kamu bisa terbang saat dewasa.
Dirimu yang menangis dan berbincang dengan tembok disaat sedih.
Dirimu yang sering dipukuli teman-teman karena tubuhmu kecil dan lemah semasa sekolah.
Dirimu yang menggambar tuts piano di kertas dan berimajinasi memainkan piano di sebuah panggung besar.


Dirimu yang ketika remaja selalu ditolak gadis karena tak cukup tampan dan kaya.
Dirimu yang pendiam dan tak punya teman bicara, namun ramai gelisah di dalam pikiran. Dirimu yang dingin kesepian namun tetap hangat dan tak tega membunuh semut merah.
Dirimu yang meragu disaat banyak pilihan yang kau tau mungkin tak akan pernah datang lagi.
Dirimu yang gemar menulis puisi dan lagu, namun tak pernah kamu nyanyikan atau bacakan.
Dirimu yang kini berdiri di atas gedung tinggi dan bertanya, bagaimana rasanya terbang.






Dear you,
Kamu tak bisa terbang.
Tapi kamu bisa berlari jika bosan berjalan. Berenang jika bosan mendaki. Bangkit jika bosan tertidur. Kamu bisa lakukan itu. Tapi tidak terbang.
Karena kamu hidup, tidak seperti aku.


See you when I see you,
Love,
Your imaginary friend,
Wisnu Kumoro.

Comments

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

VR Box vs Xiaomi VR: Mana Yang Lebih Bagus?