Sajadah Berdebu

sering kudengar dia menangis. sulit kulihat dengan jelas karena aku terlipat di sudut ruangan.
aku pun tak tau mengapa dia menangis. aku tak cukup mengerti tentang hati.
hati terlalu rumit untuk ku.
tak ada teori pasti. tak ada logika.


namun, tampaknya dia sangat mengerti tentang hati.
dia menangis. dan kadang dia marah dan tertawa.
dia benar-benar menikmati dipermainkan hati.


aku ingin mendiamkan tangisnya.
namun aku hanya bisa menunggu. terlipat di sudut ruangan. dan kini aku mulai berdebu.
terlalu lama menunggu.


"hey! cepatlah kemari"
sunyi. dia masih menangis.


"hey, rapuh! aku tau jalan yang bisa menenangkanmu. kemarilah!"


dia terdiam.
memandang kosong sesaat. lalu menoleh ke arah ku.
tatapannya menceritakan hari-hari yang ia lewati.
dia terlalu lelah menempuh perjalanan tanpa tujuan beserta milyaran kesalahannya, dan kini dia berharap bisa pulang.


aku tersenyum.
:)


"kau tak benar-benar mendengarku. tapi percayalah aku. kubawa kau pulang"


dia berdiri. melangkah gontai menyucikan diri dalam tiap langkahnya.
meninggalkan kesedihan-kesedihannya untuk sesaat.
dia akan segera menukarkannya dengan ketenangan.
dia akan pulang.


dia menghampiriku. membasuhku. mengelupaskan semua debu.
dan akhirnya kami bertatapan. aku melihat matanya yang indah. mata sembab terindah yang pernah kulihat.
sesaat dia menghela nafas. meyakinkan dirinya untuk pulang.
dan aku tau, dia siap.




"tinggalkan sesaat dirimu dan duniamu. kutunjukkan kiblatmu. kubawa kau pulang".






24 jan 2009. 2:35 am.

Comments

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

7 Things You Should Know About Xiaomi Mi4