Sin & Smile



“Hate the sin, love the sinner.” 
― Mahatma Gandhi


Namanya Dian. Asal Indramayu. Cantik dengan dengan tubuh mungilnya yang memakai pakaian setengah dress ketat yang sedikit terbuka di bagian atasnya. Kami baru bertemu beberapa jam menit lalu. Dan malam itu dia tampak sedih. Katanya, karena tidak ada lelaki yang mau menidurinya.

Dian adalah seorang pekerja seks di sebuah tempat pijat terselubung di kota Surabaya. Dan gue sekarang bersama dia di sebuah warung kopi. Hujan saat itu. Kami terpaksa mencari tempat berteduh terdekat, dan kami berdua kebasahan. Hujan mempertemukan kami di jalan itu untuk alasan berbeda: dia memang 'berkantor' di jalan itu; kalau gue karena nyasar.



Awalnya gue gak tau kalau dia adalah PSK. Gue cuma penasaran, ngapain ada cewe cantik malam-malam pakai baju ngejreng gini di pinggir jalan? Hujan-hujanan pula.
Kami duduk bersebelahan di warung kopi sempit itu. Hujan kali ini disertai angin yang membuat kami terpaksa sedikit merapat. Suasana mulai awkward. Sedikit curi-curi pandang buat mulai ngobrol, tapi salah tingkah gitu. 

Akhirnya gue nekat coba memulai pembicaraan biar suasana agak cair.

"Hm.... Abis nyanyi ya mbak?"

"Hah?"

Ya.. Itu lah orang Indonesia. Kalau orang bule nanya pertanyaan gak jelas dengan "pardon me?" Atau yg lainnya, orang Indonesia cukup dengan "hah?" dan pasang muka sedikit bego.

"Mbak nya ini penyanyi kan? Penyanyi dangdut atau bukan?"

"Bukan mas" jawabnya sedikit takut-takut. "Memang kenapa?"

"Saya pikir penyanyi dangdut. Soalnya bajunya ngejreng gini. Biasanya kan penyanyi dangdut yang bajunya mengkilap gini. Hehehe"

"Ah mas bisa aja..." Dia mendadak tersipu. Gue pastikan, kalau gue bilang temen gue mirip penyanyi dangdut, gue biasanya akan ditoyor mereka. Tapi kali ini ada orang yang keliatan seneng dibilang mirip penyanyi dangdut.

"Trus abis darimana kok bajunya kayak abis manggung mbak?"

"Duh jangan panggil mbak dong. Aku masih 22 tahun tau" balasnya. "Nama aku Dian"
Dia menyodorkan tangannya. 

"Wisnu" gue salamin tangannya. "Memang mbak Dian abis dari mana? Kok sendirian hujan-hujanan gini?"

"Aku lagi kerja, mas"

"Kerja ujan-ujan gini? Ojek payung? Trus payungnya mana?"

"Iiiiiiih becanda aja deh" Dia tiba-tiba nyubit manja gitu. Gue mulai awkward sendiri. "Bukan ojek payung. Aku kerja di sana tuh"
Dia menunjuk ke sebuah rumah diujung jalan. Tampak kelap-kelip dengan lampu bohlam watt rendah yang membuat lampu itu jadi agak temaram.

"Itu.... Tempat apa ya mbak?" Gue beneran gak tau.

"Kamu bukan orang sini ya?"

"Bukan mbak. Aku lagi nyasar mau ke rumah teman. Tadi naik taxi, trus diturunin disini. Kata supir taxi nya sih udah dekat. Ini alamatnya"
Akhirnya gue mengaku kalau gue nyasar, dan menunjukkan alamat rumah temen gue yang tadinya mau gue kunjungi.

"Oh, mas wisnu salah jalan. Ini jalan yang sebelum belokan itu, masih lurus lagi, trus nanti ada pertigaan, masih lurus" dia menunjuk pertigaan di ujung jalan yang satunya lagi. Cukup jauh.

"Yah..... Dibohongin supir taxi dong" Gue reflek nepok muka. Lama muter-muter, gak taunya salah jalan.

"Haha... Yaudah kalau ujannya reda aku anter ke jalannya. Soalnya jalannya rawan. Nanti kamu bisa dirampok di jalan loh".

"Wah yang benar?? Wah mbak Dian baik deh. Hehehe"

"Tuh kan manggil mbak lagi! Gak aku antar deh". Dia merajuk.

"Becanda... Hehehe"

"Tapi gak gratis ya"

"Hah? Maksudnya?"

"Iya kamu harus bayar kalau aku anter. Kan aku masih kerja"

"Bayar berapa?"

"200 ribu"

"Hah??!! Cuma nganter doang kok mahal banget? Ini ngerampok namanya".

"Enak aja. Aku bukan rampok. Kalau rampok tuh yang itu".

Dia menunjuk sekumpulan lelaki yang mulai memelototi gue. Dan dari kadar kealayan nya, mereka kayaknya beneran rampok. Dekil, seram, ngerokok sambil jongkok di pinggir jalan. 

"Hm.... Tapi aman kan mbak dian kalau nganter ke sana?"

"Ya kalau sama aku aman. Mau gak?" Ini tawaran yang sulit.

Akhirnya gue mengiyakan. Selain takut dirampok dan diperkosa sama rampok alay seram di jalan, lagipula yang nemenin juga gak jelek-jelek amat. Kami pun menunggu hujan reda tidak lama setelah itu.
Sebelom nganter gue, Dian meminta gue tunggu sebentar, dia mau ganti baju dulu. Gue nunggu dia di warung kopi tempat awal neduh. Gak lama, Dian datang dengan baju yang lebih pantas buat dia. Dia jadi keliatan selayaknya umurnya. Jeans dan tshirt polos warna putih.

"Ayo" katanya. Lalu kami berjalan kaki menuju jalan yang ditunjukkan Dian.

Kami berjalan berdampingan. Jalanan saat itu agak gelap. Lampu jalan hanya remang-remang dan cuma sesekali saja ada cahaya terang dari motor yang lewat. Aku memperhatikan Dian yang berjalan di sebelahku. Meski hanya tampak siluet wajahnya, tapi terlihat wajah manisnya yang belum banyak dioptimalkan. Hehehe



Beberapa menit kami berjalan saling diam, dan tiba-tiba aku melihat Dian seperti termenung. Dia seperti asik dalam lamunannya, dan matanya mulai berair. Insting gue sebagai laki-laki menangkap signal bahwa Dian ingin menangis.

"Loh? Kamu kenapa?" gue bertanya ke Dian. Dia terhentak dari lamunannya dan menyeka air di matanya yang belum sempat jatuh.

"Gak kok mas. Gak apa-apa"

Well, ini adalah kamus bahasa cewe. Siapapun cewe itu, kalau dia bilang gak apa-apa, itu artinya 'gue kenapa-kenapa, tapi gue gak akan cerita kalau lo gak berusaha tanya lebih dalam'.

"Ya, aku sih gak akan berusaha kepo masalah orang. Tapi mana ada cowo yang tega jalan sebelahan sama cewe dan ngebiarin dia sedih sampe hampir nangis gitu."

Dia tertawa kecil dan tersenyum, "kamu bisa aja".

"Jadi beneran gak kenapa-kenapa?"

Kemudian Dian terdiam. Langkahnya pun mulai melambat.

"Oke. Berhenti disana sebentar yuk. Ada bangku kosong tuh. Aku juga gak buru-buru kok". Gue menawari dia duduk di bangku taman di pinggir jalan.




Kami berdua duduk disana. Wajah Dian tampak lebih sedih dari sebelumnya. Keadaan kembali awkward. Gue gak ahli nanganin orang sedih. Gak tau harus apa.

Tiba-tiba dia mulai bercerita, "Aku sedih mas".

"Sedih kenapa kalau boleh tau?"

Dia menatap gue. "Apa aku jelek ya mas?"

"Hah?!" Jujur, gue bingung dan gak siap ditanya begitu. "Maksudnya?"

"Iya. Apa aku jelek?"

"Eng... Enggak kok. Kamu manis". Gue menjawab dengan sangat awkward. Gue gak mau terkesan jawaban gue itu menggoda dia. "Memang kenapa sih?"

Dia menghela nafas, "Kok gak ada yang mau sama aku ya..."
"Aku belum dapat tamu hari ini"

"Tamu?" gue bertanya pelan, dan dalam sepersekian detik gue baru menyadari maksud si Dian. Ge akhirnya baru menyadari dia PSK.



“I am not a saint, unless you think of a saint as a sinner who keeps on trying.”
- Nelson Mandela


"Iya tamu. Sekarang sudah mau last order, tapi aku belom ada tamu. Sebulan ini tamu aku gak lebih dari 10. Apa karena aku jelek?" Dia mulai bicara sendiri, dan gue cuma bisa terdiam. "Malam ini aja aku gak ada yang milih. Tamu yang biasanya datang dan pernah sama aku, gak ada yang milih aku lagi. Katanya aku enak, ramah, nurut. Tapi kok aku ga dipilih lagi? Apa karena yang lain lebih cantik? Dadanya lebih gede? Laki-laki kenapa sukanya dada gede sih? Mas Wisnu juga pasti sukanya yang gede kan?"

Rasanya kayak ditoyor mendadak ditanya kayak gitu.
"...yy.. yaa... Relatif sih...." Jawab gue sekenanya.

"Tuhkan, mas wisnu aja sukanya yang gede." Dia melanjutkan bicara sendiri dan airmatanya mulai menetes. "Susah tau gedein dada. Aku juga maunya gak punya dada kecil gini" katanya sambil mulai terisak pelan.

#jreeeeng

Kondisi ter-awkward akhirnya datang. Gue dengan bego cuma bengong aja di sebelahnya. Gak tau mesti gimana.

"Hm.... Memang kamu dari kapan udah disana?"

"Dari lulus sma mas. Aku dari Indramayu nyari kerjaan ke sini", ucapnya pelan sambil menenangkan tangisnya sendiri.

"Terus kenapa bisa ada disana?"

"Gak dapet kerjaan mas. Aku juga mesti makan. Bingung mau kerja apa lagi"

Klise banget! Gue berharap jawaban yang lebih dramatis, tapi ternyata jawaban Dian seperti itu.




“Some tourists think Amsterdam is a city of sin, but in truth it is a city of freedom. And in freedom, most people find sin.” 
- John Green



"Kamu punya pacar?"

"Punya mas"

Deg. Dada gue mendadak sesak. Pilu.


"Pacar kamu tau kerjaan kamu?"

"Tau mas. Dia juga ada disitu kok mas"

Deg. Lagi-lagi.


"Memang dia ada dimana?"

"Dia jadi kasir di situ mas"

Deg. Deg. Well, .....
Gue hening sesaat.


"Trus, kalian tinggal bareng?"

"Ya kamar yang tamu-tamu pake itu, salah satunya kamar aku. Aku sama dia kos disana", jawab Dian sambil mengusap air matanya.

Perasaan gue kayak diaduk-aduk denger jawaban-jawaban ini. Segala logika dalam hidup gue kayak ditubrukin. Gue berusaha buat gak berkhotbah dan mencoba menghargai Dian, tapi sulit.

Gue terdiam beberapa saat... Lalu gue tatap Dian, "Gak coba untuk udahan?"

"Ini aku sama dia lagi ngumpulin modal nikah mas. Nanti kalau udah nikah, aku mau pulang ke Indramayu. Aku masih punya keluarga disana"

"Kamu sering pulang ke Indramayu?"

"Tiap lebaran aku pulang mas. Mereka taunya aku pembantu di Surabaya".

Gue kembali terdiam... Logika di kepala gue berhenti bekerja. Gue gak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi pacarnya Dian. Tiap malam nerima uang dari laki-laki yang meniduri pacar gue sendiri. Entah gimana rasanya... Entah ada hati atau gak sebenarnya disini. Gue benar-benar speechless.


"Kok diam mas?" Dian bertanya pelan ke gue.

"Hah? Apa? Oh.. Gak kok. Gak apa-apa" jawab gue agak terbata-bata.

"Pasti mas Wisnu orang baik-baik deh. Soalnya keliatan kaget denger cerita Dian". Tampaknya gue gagal menutupi kekagetan gue. Dan memang gue gak siap menerima pengalaman begini. Dicurhatin PSK. "Dian bandel mas. Bukan orang baik kayak mas Wisnu."

Seketika hati gue terenyuh. Gue hampir nangis saat itu.



“No evil dooms us hopelessly except the evil we love, and desire to continue in, and make no effort to escape from. ”
- George Eliot



Setelah itu, kami kembali berjalan, dan Dian mengantar gue ke alamat tempat temen gue. Dan bener itu tempatnya. Sesuai janji gue kasih uang ke Dian. Gue lebihin beberapa lembar.

"Ini buat Dian semua mas?"

"Iya" gue tersenyum. "Jaga diri kamu ya, Dian".


Mendadak raut wajah Dian berubah menjadi senyum. Senyum yang tampak polos. Seperti bocah yang mendapatkan mainan baru.

"Makasih mas Wisnu".

Dia tersenyum lalu berbalik. Dia kembali menyusuri jalan yang tadi kami lewati, lalu hilang setelah belokan di depan sana.

Senyumnya malam itu gak pernah gue lupa sampai sekarang. Senyum jujur seorang pekerja seks yang selalu memalsukan senyum dan desah mereka setiap malam. Senyum yang melunturkan kemunafikan di dalam hati. Senyum pendosa yang menyentuh hati gue.

Mungkin itu salah satu senyum terjujur yang pernah gue lihat. Dan dia datang dari tempat yang benar-benar gak terduga. Dan dari orang yang gak terduga.



Sebuah kisah nyata yang merubah pandangan gue tentang cinta, dosa, dan senyum. Sebuah kisah yang merubah gue.

Comments

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

VR Box vs Xiaomi VR: Mana Yang Lebih Bagus?