Change



I never changed. You just know me better now.
- Wisnu Kumoro






Gue cek jam di handphone.
Sekarang sudah jam 2 pagi. Dan sekarang gue mengunci diri di dalam kamar mandi ini sendirian. Gue berdiri di depan cermin memandang...... gue. 



Mata gue merah dengan rambut ikal acak-acakan. Nafas gue bau alkohol dan agak tersengal. Entah kenapa terasa lelah sekali. Padahal gue gak habis berlari, tapi terasa lelah sekali. Dari luar kamar mandi terdengar musik masih bergema. Bass-nya bahkan sesekali membuat getar cermin di hadapan gue.

"What the hell i'm doing here?" Ucap gue lirih sambil menatap diri gue yang satunya di dalam cermin.

Wajah itu perlahan beraut sedih. Wajah yang gue kenal, tapi seperti bukan milik gue. 
Seketika lutut gue lemas sampai terduduk dan terpejam.
Dan gue bertanya lirih sekali lagi, "What the hell i'm doing here?".


“Time is an illusion.” 
- Albert Einstein


Beberapa jam yang lalu gue masih ada di kamar hotel melakukan apa yang biasanya gue lakukan kalau sedang istirahat di hotel selama dinas di luar kota. Favorit gue adalah bersantai di kamar, selimutan, ngemil chitato rasa BBQ dan beberapa botol beer, membiarkan tv di hadapan gue menyala, dan gue asik browsing internet pakai laptop. Sekarang gue ada di salah satu hotel berbintang di Makasar yang nyaman dengan view pemandangan kota yang hening.





Sedang asik browsing internet, tiba-tiba handphone gue berdering. Ada pesan baru masuk.
Gue cek dan ternyata itu dari teman kantor gue di Jakarta, Bayu.


Bayu: Nu. Ada yang mau gue tanyain nih.

Gue: Ya, Bay. Ada apaan?

Bayu: To the point aja ya. Gue denger lo lagi nyiapin pindah kerja ke perusahaan kompetitor. Kapan?


Perlu beberapa saat buat gue mencerna isi pesannya. Di dalam kepala gue muncul banyak pertanyaan, dan salah satunya: Dia tau dari siapa?
Gue mencoba memilih kalimat gue dan membalas pesan Bayu.


Gue: Gak kok bay. Dapat rumor dari siapa?

Bayu: Dari informan di internal kompetitor, Nu. Mereka memang gak sebut nama sih. Tapi ciri-cirinya lo banget.

Gue: Memang ciri-cirinya gimana?

Bayu: Home Appliances Trainer. Berkacamata.



Seketika gue terdiam lagi....


Gue: Bukan gue kok. Salah itu. Hehe

Bayu: Syukurlah kalau gitu. Haha oke deh, selamat istirahat sob.

Gue: Thank you, bro.


Gue taruh handphone gue di sebelah gue dan gue terdiam sesaat. Mendadak kepala gue penuh dengan pertanyaan yang dimulai dengan 'Why'. Gue memang sedang jenuh dengan pekerjaan yang gue lakukan. Beberapa kekecewaan gue rasain, tapi udah gue coba simpan dalam-dalam. Mencoba bertahan dan bersabar. Meski sekali-sekali keinginan berhenti muncul; yang setiap kali muncul sukses membuat gue galau dan ujung-ujungnya buka jobstreet atau jobsDB. Sesekali juga gue berpikir kembali berkarir di musik, tapi selalu berakhir dengan ketakutan yang sama.


“You start with a darkness to move through. B
ut sometimes the darkness moves through you.”
- Dean Young






Belum hilang shock gue karena kejadian barusan, handphone gue kembali berdering tanda pesan baru masuk. Gue langsung check, dan ternyata bukan dari Bayu. Ini dari Naswir, teman kerja gue di cabang Makasar yang juga merangkap jadi peta berjalan selama gue di kota ini. Pria berbadan besar dengan wajah seram tapi berhati baik dan kadang berkelakuan seperti bocah besar. Pria yang menyenangkan.


Naswir: Pak Wisnu. Sudah makan malam kah? Saya mau ajak makan malam jika belum.

Gue: Saya sudah makan, bang Naswir. Sedang dimana bang? Kalau mau main, sini main aja ke hotel. Ajak teman-teman yang lain juga gak apa-apa.

Naswir: Baik, Pak. Kalau gitu nanti saya berkunjung ke sana, sekalian jemput bapak ya. Kita jalan-jalan malam sebentar pak. Mumpung Pak Wisnu ada di Makasar.

Gue: Hahaha... Sebenarnya gak perlu repot-repot. Tapi yasudahlah. Kabari saja nanti ya.

Naswir: Baik pak.



Beberapa waktu kemudian Naswir datang ke hotel dengan dandanan rapih yang tidak biasa.

"Tumben rapih bang. Kayaknya ngajak jalannya niat banget nih. Hahaha" ujar gue.

"Iya dong Pak. Kali ini kita dugem Pak" jawabnya sambil nyengir.

"Dugem? Waduh... Saya gak suka dugem. Kalau ke cafe yang ada live music nya sih ayo aja. Tapi kalau dugem......"

"Ayolah Pak. Kan udah sering Pak Wisnu kalau ke Makasar hanya makan malam atau nonton live music di cafe. Kalau Dugem belum pernah kan disini" Naswir memotong jawaban gue dan meyakinkan gue.

"Duh gimana ya....." Gue masih ragu.

"Tenang aja Pak. Tempatnya bagus dan seru. Saya yang traktir".

"Ya sudahlah...tapi jangan mabok ya. Saya gak bisa bawa mobil soalnya kalau kau mabok bang"

"Hahaha siap Pak" ujarnya seraya tertawa.



Dan kami pun pergi menuju sebuah club yang terdapat di salah satu hotel ternama di kota Makasar. Di sana ternyata masih sepi. Padahal sudah hampir tengah malam. Kami berdua berkeliling memilih lokasi duduk, dan akhirnya memilih duduk di dekat bar saja.

"Memang kalau jam segini masih sepi, Pak. Tapi sebentar lagi juga ramai. Mau pesan apa Pak?" Naswir menawari minum.

"Black Label aja, bang" jawab gue sambil melihat sekeliling. "Kau sering ke sini ya Bang?"

"Kira-kira sebulan sekali atau dua kali lah Pak. Soalnya jenuh di kantor. Jadi butuh refreshing sekali-sekali. Hehe... Pak Wisnu jarang dugem ya?"

"Dulu sering waktu masih ngeband. Beberapa tahun lalu lah. Tapi, sekarang udah gak pernah sama sekali"

"Loh kenapa gak pernah lagi Pak? Gak jenuh memangnya di kantor?"

"Entah kenapa..... Mungkin....." Gue merenung sejenak. "Mungkin faktor umur".

"Wah kalau gitu saya sebentar lagi berhenti juga nih Pak. Hahahaha" Kami berdua pun tertawa.





Tapi dalam tawa, gue masih merenung. Pertanyaan Naswir tadi membawa sensasi yang sama dengan pertanyaan Bayu yang sebelumnya. Membawa gue ke tumpukan memori tentang diri gue di masa lalu. Memori yang udah lama sengaja gue letakkan entah dimana di dalam pikiran gue.

Memori tentang kejenuhan gue, dan juga tentang betapa dinamisnya hidup gue dulu. Gue teringat saat-saat masih kuliah dan bermusik. Dulu gue adalah orang yang sangat dinamis. Paling tidak suka hal stagnan. Harus ada improvisasi dan selalu eksperimen. Selalu positive thinking, dan gak takut memulai sesuatu. Ide adalah harta gue yang paling berharga. Karena gue gak cukup ganteng untuk jadi model, gak cukup tajir untuk memfasilitasi diri gue dengan teknologi terkini, dan gak terlalu pintar untuk bisa sekolah sangat tinggi. Gue hanya punya kreatifitas, dan semangat. Dan itu yang menjadi pedoman gue. Paling gak, sampai beberapa tahun lalu.

Tapi apa yang gue lakukan sekarang adalah kebalikannya. Kestabilan merupakan senjata gue. Gue duduk di kantor menatap layar monitor PC dan melakukan apa-apa yang senior-senior gue pernah lakukan sedari dulu. Rutinitas. Gue bahkan harus berpikir jutaan kali hanya untuk melontarkan ide kecil. Karena jika sampai dianggap sebagai 'bocah sok-tahu' dengan ide yang 'merusak tradisi' di kantor, akan merugikan buat gue. Gue sudah pernah mengalami itu, dan gue gak mau terulang. Gue gak mau menjadi 'bakteri' bagi senior-senior gue. Gue gak mau jadi korban 'bully' di kantor. Cukup lah gue pernah jadi korban bully di sekolah dari SD sampai SMA. Gue gak mau masa-masa traumatis itu terulang di level yang lebih keras. Gue.... Capek.


“Don't spend time beating on a wall, hoping to transform it into a door. ”
- Coco Chanel


Gue merasa seperti orang yang berbeda.

Gue baru menyadari, gue bukan lagi orang yang bebas. 
Rasanya seperti kembali ke sebuah ruangan yang gue kenal dan dulunya terisi banyak barang, tapi sudah lama gue tinggalkan dan kini kosong. Kemana perginya semua itu?

Ruangan itu adalah gue. Dan barang-barang itu adalah keberanian, kreatifitas, kepolosan, dan semangat mengejar passion. Kemana itu semua pergi? Dan siapa yang membuang itu semua?

Kenapa gue merasa kesepian di ruangan yang sangat gue hapal?




“Life is like a sandwich!
Birth as one slice, and death as the other. What you put in-between the slices is up to you.
Is your sandwich tasty or sour?"
- Allan Rufus



"Pak Wisnu? Pak?" terdengar suara Naswir. Gue terhenyak dari lamunan gue. "Kok melamun Pak? Ada apa Pak?"

"Oh gak apa-apa kok bang. Hehehe" balas gue, lalu meminum minuman gue.

"Pak, coba liat ke arah kanan deh" ujar Naswir tiba-tiba dengan suara pelan.

"Hah? Kanan? Ada apa?" Gue menoleh ke kanan ke arah yang Naswir tunjukkan. Mencari apa yang dia maksud.

"Pak Wisnu liat perempuan yang pakai dress putih itu? Yang bersama teman-temannya itu?"

"Yang berponi itu? Iya lihat. Kenapa?" Naswir menunjuk seorang perempuan cantik berponi yang sedang diam menatap gelas di hadapannya sementara teman-teman di sebelahnya asik mengobrol.

"Dari tadi saya perhatikan, dia melihat ke arah Pak Wisnu terus. Kode tuh Pak" ujarnya yakin.

"Halah.... Masa iya." Gue gak percaya.

"Kalau gak percaya, coba bapak perhatikan deh diam-diam. Nanti dia pasti melihat ke arah sini lagi, trus ngeliatin Pak Wisnu". Naswir mulai bicara dengan nada excited.

Gue coba ikuti kata-katanya. Dan ternyata benar saja. Perempuan itu dengan jelas curi-curi pandang ke arah gue dan Naswir sambil sesekali meminum minumannya. Gue juga coba sesekali melihat ke dia, dan akhirnya mata kami bertemu. Dan dia tersenyum.

"Tuh kaaaaan! Samperin Pak! Samperin!" Naswir mendadak bersemangat sambil menepuk-nepuk pundak gue.

"Kalem bang. Kalem." ujar gue sambil menenangkan lelaki besar ini agar tidak berkelakuan mencolok.

"Kalau Pak Wisnu tidak mau ke sana, biar saya wakilkan saja kalau begitu". Dengan cepat dia berdiri dari kursinya dan melangkah cepat ke meja tempat wanita itu. Gue terlambat mencegah dia. Sekarang si bocah besar itu sedang menyapa si wanita cantik berponi dan berkenalan. Mereka berbicara dan sesekali memandang ke arah gue. Awkward banget gue. Jadi salah tingkah.

Yang terjadi berikutnya lebih bikin salah tingkah. Mereka berdua berjalan menghampiri gue. Si bocah besar ini sukses banget jadi comblang kayaknya. Si wanita sexy berponi itu pun sampai ke meja gue dan akhirnya kami berkenalan. Dan rupanya yang dibawa oleh si Naswir bukan hanya si wanita berponi ini saja. Tetapi juga teman-temannya. Dua perempuan cantik lainnya ikut bergabung ke meja kami. Dari yang awalnya hanya sekedar minum-minum, akhirnya meja kami berubah jadi party dadakan. 

Dan harus gue akui, malam itu gue hanyut. Gue menikmatinya. Musik, minuman, wanita, sahabat. Semua ada dalam satu moment. And yes, I enjoy it.

Kami berpesta. Hingga satu persatu pun mulai hilang kendali. Naswir dan dua wanita cantik itu asik tertawa dan saling melempar jokes garing yang anehnya disambut tawa menggelegar. Oh, alkohol.
Begitu pun gue dan wanita berponi ini, yang sekarang setengah sadar bersandar di dada gue dan setengah memeluk. Alkohol ternyata berfungsi selain menghangatkan, juga bisa menjadi pemicu untuk memeluk. Bawaannya jadi gampang meluk. Mungkin juga Teletubbies sering berpelukan karena kebanyakan alkohol.




“They always say time changes things, but you actually have to change them yourself.”
- Andy Warhol


Tapi moment menyenangkan ini perlahan pudar. Keheningan di dalam hati bikin gue kembali merenung.

Hal-hal menyenangkan dan menghanyutkan ini..... Apakah ini diri gue?
Ataukah bersantai di kamar hotel dan bertemankan cemilan.... Itu adalah diri gue?

Apakah gue berubah? Dari pemimpi tak terkendali menjadi penakut yang penurut? Ataukah hanya berpura-pura menjadi seperti yang lingkungan gue harapkan dari gue?

Apakah gue sudah berubah seperti gas yang berkondensasi menjadi air?
Ataukah gue adalah relief yang tertimbun pasir dan disapu dengan hati-hati, yang perlahan terlihat wujud aslinya?


“If you follow the classical pattern, you are understanding the routine, the tradition, the shadow -- you are not understanding yourself.” 
- Bruce Lee




Gue cek jam di handphone.
Sekarang sudah jam 2 pagi. Dan sekarang gue mengunci diri di dalam kamar mandi ini sendirian. Gue berdiri di depan cermin memandang...... gue.








Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

Xiaomi Redmi 4X: Hape 1 Jutaan Yang Bisa Bikin Baper