Rainbow

A friend to all is a friend to none. - Aristotle 




"Sudah kah kamu menemukan Sahabat?"

Kata-kata itu yang gue temukan disini pas lagi browsing malam ini. Sebuah pertanyaan singkat yang cukup membuat gue terdiam dan berpikir sesaat "sudahkah?".

Gue baca artikel itu dan pikiran gue melompat jauh ke beberapa potongan kenangan masa lalu.



Gue duduk di sebuah tempat di foodcourt yang gue kenal bersama seorang lelaki bongsor berpakaian serba hitam-hitam beserta kamera kesayangannya, sebut saja si Hitam; dua orang perempuan yang sibuk majalah dan kemudian berdebat tentang gossip selebritis di dalamnya, sebut saja mereka si Kuning dan Hijau; dan seorang perempuan tomboy berjaket orange dan bersendal jepit yang sibuk mencari sesuatu di dalam ranselnya, dia si Orange.

"Nyari apaan lo?" tanya gue.

"Catetan" sahut si Orange.

"Catetan apaan? Kuliah?"

"Bukan. Catetan..... adalah pokoknya." Dia seperti menutupi sesuatu. "Ah! Ini dia!"
Dia mengeluarkan selembar kertas terlipat yang tampaknya sudah ditulisi.

"Apaan sih tuh?" tanya si Hitam.

"Ini sebenarnya bahan tulisan buat di blog gue. Tapi isinya.....". Dia menyodorkan kertas itu sambil membuka lipatannya perlahan-lahan ke kami semua. Si Kuning dan HIjau pun ikut menoleh karena penasaran. 
".......Rahasia!" Dengan segera si Orange menutup lipatan kertas dan menyimpan kertasnya di dalam kantong jaket belel nya.

"Yeeee...." ujar kami kecele.

"Ah paling-paling itu mantra enteng jodoh" ujarku meledek.

"Enak aja!" si Orange menoyor kepala gue. 
Kami semua tertawa. Tawa yang sejujurnya.



It is one of the blessings of old friends that you can afford to be stupid with them. - Ralph Waldo Emerson 



Sore hari itu, beberapa hari setelah pertemuan di foodcourt. Ada dua orang insan kawula muda yang sedang bercengkrama via telepon bertarif murah. Itu Gue dan si Orange.

"Jadi gitu nu ceritanya..." Ujar Orange dari ujung telepon sana. "Please jangan cerita-cerita ke siapa-siapa yaaa..."

"Iyaaa iyaaa... Gue kan gak pernah bocorin curhatan orang. Apalagi curhatan lo yang mengenaskan itu" balas gue sambil cek email di laptop.

"Curhatan lo lebih ngenes, Nyeeeet!"

"Lebih ngenes apanya??"

"Ya ngenes lah! Masih mending gue cuma dijadiin pelampiasan. Lo malah jadi selingkuhan sukarela"

"Weits! Enak aja selingkuhan sukarela! Kalau gue itu namanya "Selingkuhan Prioritas"

"Apaan lagi tuh?"

"Ibarat nasabah bank, gue tuh nasabah platinum. Service nya nomer satu. Selingkuhan tapi dinomorsatukan"

"Pret"

"HAHAHAHA"

"Eh cek blog gue deh. Gue posting sesuatu"

"Sebentar...." Gue cek blog si Orange dan ada post yang baru ditulis beberapa menit lalu. "Puisi? Lo nulis puisi?"

"Iyaaa! hahaha... itu puisi yang waktu itu gue tulis di kertas. Bagus gak? Bagus gak?"

"Lo depresi ya?"

"Kampret"

"Ya bagus sih... hmm.. sebentar deh.. jangan ditutup teleponnya. Gue pake handsfree deh nih"

"OKaaaay"

Gue langsung menyalakan keyboard yang ada di kamar. Jelek-jelek gini gue anak band. Meski posisi gue waktu itu masih drummer, tapi gue lebih sering latihan piano. Jadi gue nyalain keyboard. Soalnya kalau nyalain orang, ga enak. Nanti jadi tunjuk-tunjukkan. #iniapasih #salahfokus

Gue coba mencari-cari nada yang pas sambil baca sepenggal puisi si Orange. Gue mendadak dapat ide buat jadiin puisi si Orange menjadi sebuah lagu. Iseng.

"Halo? Nu? Lo ngapain sih? Kok ada suara piano?"

"Eh, lo dengerin ini deh" Gue nyanyiin lagu dari nada-nada yang tadi gue dapat.

"Hmmm.... coba dirubah dikit deh. Agak kurang rapih"

"Setrika biar rapih"

"Yee...."

"Oke okeee..." Gue berkutat sebentar mengganti beberapa nada, kemudian... "Oke nih. Coba dengerin yaa". Gue coba nyanyiin lagi dengan versi yang sedikit lebih teratur.

"Aaaaaah... Gue sukaaaa! Tapi itu baru sepenggal ya? Coba jadiin full song, Nu!" ujar si Orange yang mendadak excited.

"Iya. Tapi gue susah nyari penggalan lirik buat reff nya. Gue coba tulis sendiri aja kali ya? Gue coba pas-pasin sama mood lirik depannya"

"Terserah lo. Yang penting bagus kayak tadi. Eh, nanti gue yang nyanyi yaa kalo direkam! Biar dunia tau ada Diva baru disini"

"Diva Pamulang?"

"Kampret"

"Hahahaha... Okay okay... Gue tulis liriknya dulu ya"

"Okaaay gue tunggu yaaa"

Dan di hari itu, tidak lebih dari 10 menit, lagu ADA AKU DISINI pun tercipta.
Lagu pertama yang gue tulis bareng si Orange.


Dan itu bukan lagu satu-satunya. Ada lagi lagu berikutnya yang kita tulis barengan. Cuma lagu yang kedua itu lebih dadakan. Lagu ADA AKU DISINI tanpa diprediksi sebelumnya ternyata menyebar di kalangan kampus dan sampai diputer di radio kampus. Dan radio kampus pun ngundang kami buat interview dan perform. Daripada aneh cuma modal satu lagu doang, akhirnya kami rekam lagu kedua yang judulnya SAKIT SENDIRI. Dan di lagu itu si Orange ikutan nyanyi! Suaranya.... ampun deh. HAHAHA!

This is one part of our story. The story of rainbow. L'Arc~en~Ciel. But not ordinary rainbow, because our rainbow colors are Black, Yellow, Green, Orange, and Blue. I'm the Blue.
This rainbow is the answer for the early question: "Sudah kah kamu menemukan Sahabat?"

Yes I am.




Even my rainbow fade away, and the night will come soon. But the sky now is colored with one solid color, Orange. And yes, she is my best friend.

:)


Friendship is unnecessary, like philosophy, like art... It has no survival value; rather it is one of those things that give value to survival. - C. S. Lewis 












ps: Hey Orange! Thanks for this 5-years friendship. Congrats for your engagement today. This is a present for you.

Comments

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

7 Things You Should Know About Xiaomi Mi4