Surat Berjudul Si Marun

sebuah kumpulan emosi terhempas di wajahku..
mataku menyapu tiap bekas air mata di lembar tipis surat ini..




...

Kedua mataku mencoba terbuka. Tapi terasa berat karna digelayuti oleh air mata. Air mata yg belum habis mengalir,sejak siang itu. Aku menghirup udara dalam dalam. Mencoba meresapi setiap buih kenyataan. Kenyataan yg kini membuatku hilang.
Ya,aku melepasnya. Membiarkannya tertawa disana bersama sejuta kebahagiaannya. Kebahagiaan yg dulu tidak pernah singgah di hidup nya. Kini membalut sluruh dirinya. Ya,mereka adalah ladang kebahagiaannya. Sedangkan aku ? Aku hanya tumpukan beban yg memeluknya erat.
Aku sangat menyayanginya. Dia tau itu dengan nyata ! Karna aku sangat menyayanginya,aku melepaskannya. Sungguh,ini telah menghapus warnaku. Merahku mulai pudar berganti marun.
Hmmm..
Tak apa.
Marun pun tak bgitu buruk ! Hanya aku blm terbiasa dengan warna baruku. Mungkin nanti..
Aku tidak ingin memaksakan. Tapi aku berharap,dia dapat merasakan tangisku. Merasakan adaku. Merasakan deraku. Merasakan gelisahku. Merasakan detakku. Merasakan jejakku. Merasakan egoku. Merasakan lelahku. Merasakan mimpiku. Merasakan aku.
Kali ini,banyak doa yg aku panjatkan. Apakah ia akan mendengarnya ? Aku membutuhkan dukungan itu. Bisikkanlah. Bicaralah. Kali ini aku jatuh. Dapatkah ia dengarkan teriakku ?? Relakah ia menjulurkan tangannya padaku ? Sudikah ia menjadi bagian diriku ??
Hmm.. Kalau doaku bisa terkabul,aku ingin hatiku dicabut. Agar tidak perlu merasakannya lagi,sesuatu yg basah,pekat,dan asin.
Aku terlalu lelah untuk berjalan. Namun,masih mampu merangkak. Hanya saja,Merangkak membuat lutut dan kdua telapak tanganku terkoyak. Apa aku harus diam ditempat ?
Lagipula,untuk apa aku maju. Toh tidak ada lagi yg aku kejar diujung sana ! Tidak ada lagi alasan yg tepat.
Ya,lebih baik diam saja disini. Merapat disudut ruangan. Dan menangis sekeras kerasnya.. Larut bersama cairan itu.
Terimakasih untuk warna baruku. Si marun. Panggil aku begitu. Merah tidak. Hitam juga tidak.

...

untuk hati yang menulis surat ini.. untuk mata yang menangisi aku.. untuk dia yang tak tau aku pun pudar..

maaf..




-nu-



dari surat yang ia baca.
dari seseorang yang menyayanginya.
yang melepas belenggu genggaman dan kini menari bersamanya.
:)



2 feb 2009. 11:59pm.

Comments

Popular posts from this blog

#MyFirst: Pertama dan Terakhir. BPJS Ketenagakerjaan alias Jamsostek.

#MyFirst Tech Review: Xiaomi Mi4

VR Box vs Xiaomi VR: Mana Yang Lebih Bagus?